Perkembangan pesat Arsenal di bawah kepemimpinan Mikel Arteta memang sering jadi sorotan. Tapi, bukan cuma sang manajer yang berjasa dalam revolusi klub beberapa tahun terakhir. Jajaran manajemen di atas Arteta juga memegang peran krusial, terutama lewat kesabaran mereka saat klub melalui periode sulit di awal masa kepelatihan Arteta.
Dukungan dari level manajemen tertinggi ini sama pentingnya dengan apa yang dikerjakan Arteta di tempat latihan. Peningkatan struktural tersebut paling terlihat jelas dari cara Arsenal menangani kontrak pemain saat ini.
Lepas dari Warisan Buruk Era Gazidis
Pada masa kepemimpinan Dick Law dan Ivan Gazidis dulu, kontrak pemain sering dibiarkan menyisakan 12 hingga 18 bulan. Kondisi ini jelas membuat posisi tawar Arsenal lemah saat negosiasi.
Pemain bintang kerap mendesak klub hingga berada di posisi sulit. Hasilnya, Arsenal terpaksa memberikan gaji tinggi seperti pada Mesut Ozil dan Pierre-Emerick Aubameyang, atau malah kehilangan pemain dengan harga murah hingga gratis seperti Aaron Ramsey dan Alexis Sanchez.
Isu kontrak ini juga kerap menjadi gangguan non-teknis sepanjang musim, di mana media lebih menyoroti masalah luar lapangan ketimbang performa tim di lapangan. Kini, situasi ribet itu sudah lama berlalu.
Strategi Proaktif di Bawah Kroenke dan Garlick
Di bawah arahan Josh Kroenke dan Richard Garlick, Arsenal kini memegang kendali penuh. Klub menetapkan batas waktu dua tahun sebagai indikator penting. Ketika kontrak pemain kunci menyisakan dua tahun, negosiasi perpanjangan langsung dimulai secara senyap.
Jika kesepakatan tidak tercapai, manajemen langsung mengambil keputusan tegas lebih awal untuk menghindari drama berkepanjangan yang dulu sering mengganggu fokus tim.
Perpanjangan kontrak Arteta hingga 2030 menjadi bukti nyata dari penerapan filosofi ini. Stabilitas dan keamanan tim jadi lebih terjaga. Para pemain tahu betul siapa pelatih mereka, gaya bermain yang diterapkan, serta arah proyek klub untuk beberapa tahun ke depan.
Langkah serupa juga diterapkan pada pemain pilar. Mengamankan masa depan pemain seperti Bukayo Saka, Gabriel Magalhaes, dan William Saliba sejak dini—sebelum klub raksasa Eropa lain coba mendekati—menjadi kunci sukses konsistensi performa Arsenal saat ini.